That Day in The First Week in July 2017

Hari itu, di hari entah keberapa kami pelajar SMA yang back to school lebih awal, saya terpaksa duduk di bangku paling belakang.



Tidak begitu lama saya meninggalkannya, bangku lama yang saya duduki lagi di kelas 12 itu malah diduduki oleh salah seorang siswa termuda di kelas ini.


Tampak ia sedang bercakap-cakap dengan teman dekat saya, yang merupakan anak baru (pindahan) setahun yang lalu.

Teman saya yang anak baru setahun yang lalu itu, ia sangat beruntung. Ia lebih baik daripada diri saya yang tak segaul dirinya. Ia ceria dan ramah. Mudah sekali untuk berteman.

Saya pun terpaksa duduk di bangku paling belakang dan mendapati pemandangan yang tidak jauh berbeda dari momen di kelas sebelumnya–masih di ruang yang sama.

Warga kelas saya ini masih saja terlihat berkelompok-kelompok. Ada yang bermain, berbicara berbagai macam hal, dan tentu ada saja orang-orang yang tersisa seperti diri saya dan berakhir dengan membuat coretan atau tiduran-tiduran.

Ah, walau sama-sama tak berkelompok, saya belum melakukan hal yang sama. Saya sedang bingung dengan apa yang akan saya lakukan selanjutnya jika sudah berakhir begini.

Menyendiri, di kelas bagian belakang, tak berponsel atau berbuku (saya membawa buku, tapi tak minat membacanya), dan jadilah saya mulai kembali mengamati kawan-kawan yang sejujurnya saya bosan dengan wajahnya–sama seperti gurauan teman sebangku saya.

Ah, sering kali saya terpikir apakah saya ada di mata mereka? Bagaimana bisa mereka begitu hingga saya dibiarkan terpojok begini? Ah, entahlah. Ada saya atau tidak, sama saja, bukan?

Bukannya merendahkan diri, tapi nyatanya saya memang bukanlah seperti si aktif yang selalu menjadi nomor satu atau yang selalu maju ke depan kelas, dan dicap sebagai orang penting, orang nomor wahid.

Seperti pikiran saya sebelumnya. Saya kembali menyebutnya di dalam kepala saya: “orang kalau sudah berpunya ya pada suka lupa.”

Apapun itu, mereka begitu lupa akibat begitu hanyut dalam kebahagiaan karena mampu, karena memiliki.

Dan di saat seperti sekarang, saya yang agak melarat mengaku sangat menyesal.

Oh, wait! Bicara apa saya ini?! Lewatkan saja, okay?

Ngomong-ngomong, selama apa pun saya mengamati teman-teman saya itu dari kelas bagian belakang, tetap saja sampai sekarang saya ragu kapan itu terjadi dan seragam apa yang mereka dan saya gunakan.

Terutama, poin kejadian di hari sebelumnya, hari Selasa.

Wait! Berarti saya ingat, bukan, hari itu? Tapi, saya masih ragu. Hari itu guru sudah masuk. Tidak mungkin kami bermain-main (?).

Astaga, itulah kelemahan saya.

Selama apapun melihatnya, saya tidak ingat detail objeknya.

Saya ragu. Saya masih labil, ya.

Next, saya harus tahu. Saya harus bisa mengingat dengan baik.

Setidaknya untuk saya ceritakan seperti sekarang.

Seperti yang saya tulis di buku atau postingan sebelumnya, saya ingin menulis, dengan berlatih setiap hari.

Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Dan menulis yang mudah ialah menulis fakta atau kisah hidup masing-masing, karena melatih diri dengan menulis khayalan kadang tak kunjung selesai. :'D
That Day in The First Week in July 2017 That Day in The First Week in July 2017 Reviewed by Savira Su on July 08, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.